Reok Barat, Sabtu, 17 Januari 2025 — Deru air terjun Tiwu Pai masih bergemuruh seperti hari-hari sebelumnya. Namun hari ini, suasana di Desa Toe, Kecamatan Reo Barat, terasa berbeda. Di antara tanah dan batu yang sudah licin dan aliran air yang deras, Bupati Manggarai berdiri bersama orang tua Armedo, keluarga, warga, serta tim SAR gabungan yang selama tujuh hari terakhir berupaya keras dalam upaya pencarian.
Tidak ada jarak. Tidak ada mimbar. Dalam kunjungan kunjungan itu, Bupati Manggarai juga berbicara langsung dengan ayah korban. Dengan nada pelan, ia menyampaikan belasungkawa atas musibah yang menimpa keluarga, serta meminta keluarga tetap diberi kekuatan dalam menghadapi situasi yang berat ini.
Bupati datang langsung ke lokasi, melihat medan pencarian dari dekat, dan mendengar penjelasan lengkap dari Komandan Tim Basarnas, Yuda Kusuma, tentang apa yang telah dan masih bisa diupayakan.
Dalam pernyataannya, Bupati Manggarai lebih dulu menyampaikan terima kasih kepada seluruh unsur yang sejak hari pertama bekerja bersama Basarnas Maumere, Polair, Polres Manggarai, TNI, pemerintah desa, kecamatan, dan masyarakat.
“Kita tidak pernah membayangkan kejadian seperti ini menimpa siapa pun,” ujar Bupati. “Tetapi jika itu terjadi, maka dengan satu dan lain cara kita berusaha betul-betul menanganinya dengan baik.”
Ucapan terima kasih secara khusus disampaikan kepada tim Basarnas yang baru saja menyelesaikan tugas penting di Labuan Bajo dan langsung bergerak ke Manggarai.
“Apa yang Bapak-Bapak lakukan menjadi penyemangat bagi kami semua, terutama keluarga,” kata Bupati.
Tujuh Hari Pencarian di Medan Berisiko Tinggi
Penjelasan teknis pencarian disampaikan langsung oleh Yuda Kusuma, Komandan Tim Basarnas selama operasi pencarian Armedo. Ia memulai dengan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban.
“Izin menyampaikan runtutan upaya pelaksanaan pencarian adik kita selama kurang lebih tujuh hari,” ujarnya.
Yuda menjelaskan, laporan kejadian diterima tim sekitar pukul 13.30 Wita terkait kecelakaan di lokasi Air Terjun Tiwu Pai. Tim kemudian berkomunikasi dengan unsur yang lebih dulu berada di lokasi, yakni Polair, Polres Manggarai, Koramil setempat, serta pemerintah desa.
“Dari hari pertama, sebelum debit air membesar, memang sudah dilakukan upaya penyelamatan oleh unsur terdekat,” jelasnya.
Basarnas kemudian menambahkan dukungan berupa dua set peralatan selam dan empat personel penyelam. Tim tiba di Desa Toe sekitar pukul 21.00 Wita dan diterima di rumah Kepala Desa. Keesokan harinya, pencarian memasuki hari kedua dan langsung dilakukan penyelaman.
“Kami berkoordinasi dengan instansi yang sudah berada di lokasi dan juga dengan keluarga korban,” kata Yuda.
Menyelam di Bawah Air Terjun dan Gua
Yuda menggambarkan kondisi lapangan yang sangat berisiko. Dengan debit air yang saat itu jauh lebih besar dibandingkan hari penutupan operasi, kedalaman di bawah air terjun diperkirakan mencapai sekitar tujuh meter.
“Saya selaku penyelam pertama sempat tertarik di bawah air terjun,” ungkapnya. Dari situ, tim baru mengetahui adanya gua di bawah aliran air, berdasarkan informasi warga setempat.
Evaluasi terus dilakukan. Tim kemudian berkoordinasi dengan penyelam dari Direktorat Polda NTT yang baru selesai menjalankan operasi bersama di Labuan Bajo. Lima penyelam tambahan dengan peralatan pendukung datang ke lokasi.
“Metode pencarian itu tidak selamanya harus menyelam,” jelas Yuda. Tim dibagi untuk menyisir hingga muara, dipimpin unsur kepolisian yang lebih mengenal wilayah teritorial setempat.
Seluruh proses dilakukan dengan komunikasi intensif bersama pemerintah dan satuan terkait, termasuk menyampaikan imbauan kepada masyarakat. Masukan dari keluarga korban juga diterima secara terbuka.
“Tujuan kita satu, yaitu kemanusiaan,” tegasnya.
Menjaga Adat, Menjaga Keselamatan
Dalam proses pencarian, pelaksanaan adat dan kearifan lokal sepenuhnya dihormati dan dibimbing oleh pemerintah desa. Hal ini menjadi bagian dari pendekatan yang dijalankan selama tujuh hari operasi.
Yuda juga menegaskan bahwa berbagai informasi di luar terkait pembedaan penanganan tidak benar.
“Kami bisa pastikan dan disaksikan warga serta keluarga korban, kami tetap berusaha semaksimal mungkin dan menekan risiko sekecil mungkin,” ujarnya.
Sebagai safety officer di lapangan, ia menekankan satu prinsip utama yakni jangan pernah menambah korban.
“Sampai hari ini tidak ada penambahan korban selama operasi SAR,” katanya, kecuali insiden kecil di hari pertama yang terjadi di luar area kerja.
Yuda juga berbicara dengan nada personal tentang duka yang dirasakan tim.
“Mayoritas kami yang bertugas adalah ayah dan suami. Kesedihan yang dirasakan keluarga adalah kesedihan yang kami rasakan juga. Tidak ada setengah hati dalam tugas kemanusiaan ini.”
Operasi Resmi Ditutup, Pemantauan Tetap Berjalan
Area Tiwu Pai, menurut Yuda, adalah lokasi yang dalam dunia penyelaman sangat tidak direkomendasikan. Namun dengan pertimbangan peningkatan keselamatan, pengalaman, serta rekayasa teknis seperti pembendungan dan pengalihan aliran air, penyelaman tetap diupayakan.
Sesuai SOP Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan, operasi SAR berlangsung selama tujuh hari. Hari itu merupakan hari ketujuh.
“Dengan itu, kami mengusulkan operasi SAR pencarian resmi ditutup hari ini,” kata Yuda. Namun ia menegaskan, penutupan bukan berarti upaya dihentikan sepenuhnya.
Pemantauan tetap dilakukan oleh instansi terkait. Jika di kemudian hari ada perkembangan dan keluarga tidak mampu menjangkau lokasi, Basarnas siap membuka kembali operasi sesuai prosedur.
Bupati Manggarai menegaskan hal yang sama. Ia menyampaikan bahwa meskipun pencarian resmi ditutup, upaya keluarga bersama pemerintah desa, kecamatan, dan kabupaten akan tetap berjalan dengan koordinasi yang ketat.
Ia mengingatkan agar setiap niat membantu dikomunikasikan melalui pemerintah desa demi keselamatan bersama.
“Kita menghargai semua niat baik, tetapi jangan sampai niat baik itu justru menambah korban,” tegasnya.
Di akhir kegiatan, Bupati juga menyampaikan imbauan singkat terkait cuaca ekstrem dan potensi longsor di Manggarai. Namun di Tiwu Pai hari itu, yang paling terasa bukan sekadar imbauan, melainkan kehadiran negara yang datang, mendengar, dan berdiri bersama keluarga dalam duka.
Di bawah deras air terjun Tiwu Pai, ikhtiar mungkin terbatas oleh alam, tetapi kepedulian dan kemanusiaan tidak pernah benar-benar berhenti.




